Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Latifah al-Husseini, jurnalis Lebanon, dalam sebuah catatan menulis: dua pidato publik terakhir Imam Syahid pada bulan Februari, sebelum kesyahidan beliau, lebih dari sekadar sikap politik; keduanya menggambarkan arah masa depan Republik Islam.
Menurut tulisannya, dua pidato tersebut, yang disampaikan pada peringatan kemenangan Revolusi Islam dan dalam pertemuan dengan rakyat Azerbaijan Timur, menjelaskan kerangka konfrontasi dengan Amerika dan rezim Zionis serta menegaskan kelanjutan jalan tersebut.
Penekanan pada Persatuan Nasional dan Penguatan Front Internal
Analisis ini, dengan merujuk pada pesan-pesan Imam Syahid mengenai pentingnya menjaga kohesi internal, menegaskan bahwa beliau memandang persatuan rakyat sebagai syarat utama keberhasilan dalam menghadapi ancaman-ancaman eksternal. Beliau juga senantiasa memperingatkan bahaya meluasnya perbedaan politik, kepartaian, dan sosial.
Selain itu, beliau menekankan tanggung jawab berlipat para pengelola dan pejabat untuk meningkatkan efektivitas kerja, menyelesaikan berbagai persoalan, dan memperkuat kepercayaan publik sebagai fondasi ketahanan front internal.
Konfrontasi Jangka Panjang dengan Amerika dan Rezim Zionis
Menurut penulis, salah satu pesan terpenting dari pidato-pidato terakhir Imam Syahid adalah penegasan bahwa konfrontasi dengan Amerika dan rezim Zionis bukanlah pertarungan sesaat, melainkan pertempuran strategis dan jangka panjang yang memerlukan kesiapan politik, militer, ekonomi, dan budaya.
Dalam kerangka ini, beliau menolak segala bentuk harapan terhadap perubahan kebijakan Amerika hanya karena pergantian pemerintahan, dan menekankan pentingnya menjaga kekuatan daya tangkal serta perlawanan.
Perpisahan dengan Al-Qur’an; Akhir Jalan dari Seumur Hidup Perjuangan
Pada bagian akhir, penulis, dengan merujuk pada kehadiran publik terakhir Imam Syahid dalam majelis keakraban dengan Al-Qur’an, menggambarkan momen tersebut sebagai “perpisahan Qur’ani” Pemimpin Revolusi Islam.
Ia menulis bahwa beliau menghabiskan jam-jam terakhir kehadirannya di tengah rakyat bersama ayat-ayat Ilahi, dengan tilawah dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Menurut penulis, gambaran ini menjadi simbol akhir perjalanan seorang pemimpin yang seluruh hidupnya dibangun di atas poros Al-Qur’an, iman, dan perlawanan.
Komentar Anda